Menyingkap Esensi Tadarus

 

TADARUS adalah satu aktivitas amal yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk menyemarakkan bulan Ramadhan. Biasanya kegiatan ini secara jama’ah berlansung usai Tarawih dan Witir di masjid atau meunasah hingga menjelang sahur tiba. Kebiasaan tadarus yang umumnya dilakukan oleh kelompok pengajian adalah dengan membaca Alquran secara bergiliran, menggunakan pengeras suara, dan dilakukan tanpa bimbingan seorang guru yang sejatinya dapat memperbaiki bacaan peserta tadarus yang belum benar.

Sebagian peserta tadarus sendiri, terkadang lebih termotivasi oleh pengeras suara dari pada adanya tekad yang kuat untuk meningkatkan kualitas bacaan serta pemahaman Alquran. Tadarus semacam ini jelas belumlah benar sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, barangkali kita perlu menggali lebih dalam makna tadarus sehingga tidak terjebak ke dalam praktik tadarus yang keliru.

Belajar bersama

Tadarus sebenarnya adalah model cooperative learning (belajar bersama) yang dianjurkan Nabi Saw. Jika merujuk kepada kamus bahasa Arab pada umumnya, tadarus adalah bentuk masdar dari kata darasa yang artinya adalah belajar. Tadarus berdasarkan wazan tafa’ala, menjadi tadarasa. Kata kerja (fi’il) yang mengikuti wazan ini di antaranya mempunyai makna lilmusyarakah (saling), di mana subyek (fa’il) dan obyek (maf’ul) secara aktif melakukan perbuatan secara bersamaan, sehingga maknanya adalah saling mempelajari atau belajar bersama.

Tadarus yang hakikinya belajar bersama juga tercermin dalam salah satu hadis Nabi saw: “Dan tidaklah berkumpul suatu kelompok pada salah satu masjid dari sekian banyak masjid Allah untuk membaca Alquran dan mereka saling mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim).

Merujuk kepada makna tadarus di atas, maka jelaslah bahwa tadarus merupakan aktivitas belajar bersama dalam rangka saling bertukar pengetahuan dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca dan memahami Alquran. Berdasarkan hadis Nabi Saw di atas juga dapat dipahami bahwa sekiranya tadarus benar-benar dilakukan sesuai anjuran, maka akan mendatangkan rahmat dan ketenangan. Hal ini tentu saja akan diperoleh orang yang bertadarus karena yang mereka lakukan adalah kebaikan.

Untuk itu, agar tadarus mendatangkan rahmat dan dapat menambah wawasan pesertanya, maka sebaiknya ada pemandu atau guru di antara mereka yang memiliki pengetahuan lebih dari peserta lainnya, sehingga dapat memberikan bimbingan dan koreksi atas peserta yang lain, baik dari aspek tajwid, makharijul huruf, bahkan mungkin esensi ayat. Tujuannya adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang Alquran dan dapat menangkap pesan esensial yang ada di dalamnya.

Menangkap esensi Alquran itu tentu saja penting, sebab inilah sasaran yang paling utama dalam mempelajari Alquran. Bukankan kita tau bahwa Alquran adalah petunjuk bagi manusia (hudan linnas)? Lalu bagaimana kita jadikan kitab ini sebagai ‘kompas kehidupan’ yang mengarahkan jalan seseorang sementara dia tidak pernah berusaha untuk memahami pesan yang tersirat di dalamnya.

Di sisi lain, rasanya keliru ketika kelompok tadarusan mengejar target untuk khatam Alquran sampai berkali-kali dalam bulan Ramadhan, tanpa mengetahui dan memahami maknanya sedikit pun. Mengapa Nabi saw menganjurkan untuk belajar bersama? Sebenarnya bukan untuk sekadar target khatam-nya, melainkan diharapkan dapat memetik esensi dan pesan dari ayat demi ayat. Jika hanya target khatam, tentu tanpa bersama juga sebenarnya bisa dicapai.

Pengajian tadarus di bulan Ramadhan tentu bukan syi’ar belaka dan bukan hanya dijadikan ajang untuk mendemonstrasikan merdunya suara, melainkan harus mampu menggali isi kandungannya yang maha mulia. Alangkah sia-sianya jika malam kita habiskan berjaga-jaga hingga menjelang sahur tiba, kalau hanya untuk meneriakkan ayat-ayatNya sementara tidak mampu menangkap makna dan hakikat yang terkandung di dalamnya.

Sisi lain tadarus

Sekiranya ditelusuri lebih dalam, sebenarnya ada sisi lain dari tedarus yang masih tersirat. Bahwa tadarus adalah belajar bersama yang membuat orang lebih betah dan biasanya tidak cepat merasa bosan. Barangkali inilah salah satu cara Islam mengajarkan bagaimana membuat kegiatan yang baik dalam sebuah perkumpulan. Di luar ramadhan mungkin kita sering berkumpul tapi bukan untuk tadarusan, melainkan nonton bareng sepak bola, jaga malam, atau kegiatan lain yang sama sekali kurang mendatangkan manfaat.

Dalam tadarus juga sebenarnya tersirat pesan yang sangat berharga, bahwa tadarus merupakan model cooperative learning yang begitu menarik untuk diikuti, karena dalam pembelajaran seperti ini, tidak ada guru khusus yang dipersiapkan sebab semua berpeluang menjadi guru dan semua berpeluang menjadi murid. Kendatipun minsalnya ada guru khusus, tentunya tidaklah menjadi sosok yang ditakuti, melainkan berposisi sebagai partner yang siap membimbing peserta tadarus lainnya.

Anjuran tadarus juga sebenarnya merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Islam untuk membangun sebuah tradisi jamaah yang baik dan kontributif. Tadarus mampu membangun sikap mental kerja sama yang elegan dan inklusif antar individu untuk kemudian menjadikannya sebagai tradisi keluarga dan masyarakat.

Hal ini tentunya juga berkaitan erat dengan pemahaman dan implementasi demokrasi yang baik di suatu tempat. Artinya ketika tadarus dapat dijadikan sebuah tradisi yang melekat dengan budaya setempat, maka sesungguhnya dia berpeluang besar dalam menegakkan demokrasi yang baik, karena tadarus sesungguhnya adalah di antara wadah pembelajaran untuk demokrasi, toleransi, saling berbagi, silaturrahmi, dan wadah untuk mentransmisikan nilai-nilai luhur Islam lainnya.

Setiap perintah dalam Alquran dan hadis pasti mengandung kebaikan dan manfaat, begitu pula tadarus. Namun perintah tersebut boleh jadi tidak akan mendatangkan kebaikan dan bernilai sama sekali ketika pelaksanaannya tidak dibarengi dengan pemahaman yang cukup tentang esensi perintah tersebut. Semoga tadarus Ramadhan tahun ini dapat meningkatkan kemampuan baca Alquran kita, sekaligus mampu memperkaya wawasan dan pemahaman Alquran kita melalui proses yang benar.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s